Thursday, November 22, 2012

Benang Merah Generasi Perupa

Mengenang Pelukis Mardian

Pelukis Mardian (Alm)
Pemandangan (1979)
By Mardian
Oil on Canvas, 70 x 70 Cm
Suami saya Hardiman Wisesa, dilahirkan di Namu Sira Sira, Binjai (Medan) pada 13 Oktober 1970. Ketika bertandang ke rumah pelukis Mustika di Jakarta (1997) dihadiahi sebuah buku, yang ditulis oleh pelukis Mustika sendiri. Dari beliau suami saya mengenal sosok pelukis Mardian yang merupakan salah satu perupa modern Indonesia yang merupakan adik kandung kakeknya (Alm, R. Oemar Said) yang juga seorang perupa. Pelukis Mardian dilahirkan di Sosromenduran, Yokyakarta pada 10 Januari 1926. Telah menjadi salah seorang pendobrak seni rupa modern Indonesia meski namanya tidak sepopuler pelukis Affandi.

Saya mengutip dari  buku dan pembicaraan antara suami saya dan pelukis Mustika:

Untuk menjadi sarjana ekonomi - insinyur - dokter - politikus, telah banyak diselenggarakan perguruan tinggi, jutaan orang dengan titel terkait telah dicetak. Namun tidak satu perguruan tinggi yang sanggup mencetak sarjana yang menyandang gelar "seniman". Ternyata dalam proses perjalanan mencapai gelar tersebut,  seniman lahir sesuai dengan "fitrah-Nya". (Mustika dan Sukirnanto: 366, 1996)

Beda zaman beda corak dan kecintaan dapat dilihat dari dua sosok perupa ini, meski mengalir darah yang sama. Pelukis Mardian yang lahir tahun 1926 telah memperbanyak dan memperbarui pelukis esensi dan kolorist. Bakat yang dimiliki mengingatkan pada karya pelukis Kadinsky, Fauvist dan Matise. Demikian komentar kritikus dan pers Belanda pada pameran tunggalnya di Balai Budaya Jakarta (1977). Sedang cucunya Hardiman Wisesa yang lahir tahun 1970 menetapkan hati pada karya klasik atau naturalis yang mengingatkan pada karya-karya pelukis Eropah Rembrant, Millet dan pelukis naturalis Indonesia Dullah dan Raden Saleh.

Still life fruits
By Hardiman Wisesa
Oil on Canvas, 80 x 100 Cm 

Warna dan corak bukan tolak ukur untuk menjadi yang terbaru atau yang tertinggal. Tetapi benang merah yang mengikat mereka pada mata rantai senirupa, keduanya sama-sama mendedikasikan hidup yang dianugerahi Tuhan hanya untuk berkesenian.


By Farah Wisesa

Baca:
SENI RUPA INDONESIA MODERN DALAM KRITIK DAN ESEI
(Mustika dan Slamet Sukirnanto,1996).
wisesa art house

No comments:

Post a Comment