About Me

My photo
Medan, Sumatera Utara, Indonesia
Di mulai tahun 1998, dan baru dikukuhkan Desember 2009. Dikenal dengan Rumah Seni Wisesa. Kami mendokumentasikan alam, dan lingkungan lewat lukisan. Realitas alam sebagai sumber inspirasi, telah menjadikan rumah kami sebagai persinggahan bagi pecinta seni, baik itu collector, penikmat seni atau hanya sekedar berdiskusi. Pendiri dari Rumah Seni Wisesa adalah: Hardiman dan Farah Wisesa. Lembaga Kesenian ini bersifat independen dan non profit. Kami menolak donasi dari berbagai lembaga yang bersifat politik, sehingga kami bebas melukiskan apa saja tanpa dibebani dengan unsur-unsur politik. Kami menerima donasi dari anda dalam bentuk apapun, baik berupa tulisan, buku-buku bekas, terutama yang berhubungan dengan flora dan founa. Ketertarikan terhadap minat yang sama seperti anda dapat menjadi tulang punggung untuk menyuarakan kebebasan berekspresi.

Saturday, March 27, 2010

LUKISAN INDONESIA

ARS MINIATUR NATURAM
HARMONI  ALAM DAN SATWA PADA KARYA HARDIMAN WISESA.

Evolusi pengertian dan pemahaman kita terhadap alam sekitar dan penghuninya telah mengalami pergeseran penting. Para pembela dan pemerhati lingkungan, konservator dan penyelamat jenis satwa-satwa yang terancam punah, kini bekerja keras mengembalikan populasi dan habitat mereka semula. Intensitas keprihatinan tersebut, boleh dibilang hampir menyamai intensitas ketidak pahaman kita atas persoalan serupa beberapa dekade lampau.

Kepedulian tersebut tentu saja belum dapat memulihkan segalanya; kerusakan dan degradasi lingkungan telah meninggalkan bekas teraniaya yang sedemikian rupa dan nyaris tak terpulihkan. Bahkan saat iklan-iklan penyelamatan lingkungan semacam kerusakan hutan makin gencar dilakukan oleh para pemerhati lingkungan, negara kita masih digolongkan sebagai wilayah yang paling tercepat didunia dalam hal kerusakan hutan dengan segala hewan penghuninya.

Mengapa demiklian? Barangkali salah satu alasan penting adalah bahwa hati nurani masyarakatmodern yang menggunakan logika uang masih terlalu kebal untuk tersentuh pada masalah-masalah lingkungan alam, soal yang justru mereka anggap sepele.

Bila sementara banyak orang belum merasa terpanggil atau tersentuh hatinya pada issue diatas, bukan berati upaya-upaya yang bersifat langsung, tegas (demo, protes) maupun yang persuasif  lewat berbagai bentuk media berhenti. Para aktivis lingkungan menggunakan berbagai bentuk media penyadaran, para penulis dan seniaman menggunakan sentuhan estetis dalam menggugah perasaan publik.

Pelukis Hardiman Wisesa, seperti apa yang tersirat dengan jelas pada sekian banyak karya-karyanya yang bernada naturalis hingga hyperrealis, sesungguhnya termasuk diantara sekian banyak seniman yang mengangkat kebesaran alam. Lebih tepatnya seniman yang hidup sederhana ini datang dengan sepenuh hati melukis hewan-hewan liar ditengah lingkungan yang masih alami, diantara pola pikir masyarakat yang keburu terppojok ditengah belantara teknologi modern.

Dapat diduga, pilihan sikap ini tidak dengan sendirinya muncul dari satu arah sudut pandang (interpretasi) ataupun satu pelimpahan alam bawah sadar semata. Sangat mungkin pelukis yang mengaku telah menekuni seni lukis sejak usia 13 tahun ini didorong berbagai situasi dan kesadaran dalam memilih subyeknya.

Karya-karya Wisesa pertama dapat digolongkan pada kecenderungan naturalisme. Disini subyek ditangkap sealami mungkin dan tanpa ada kelebihan yang ekstrim (lihat karya yang mengangkat subjek ayam dan harimau dengan rantingnya). Netralitas dalam melihat dan menyuguhkan subyek menjadi pilihan, dan itu pula yang tersirat oleh penikmat. Itu bukan berarti tanpa penonjolan aksen visual tertentu. Permainan cahaya dan kontas gelap terang menjadi factor yang amat penting dalam karyanya yang melukiskan sekelompok sapi dan gembala, misalnya.

Pada kecenderungan kedua, karyanya jelas telah mengikuti jejak para seniman realis bahkan hyperrealis (lihat karya-karya seniman dunia seperti Rembrant, Carl Brenders, Ralp Goings dan Richard Estes). Keunggulan teknik dalam menyuguhkan detail serta suasana, memberi banyak peluang kejutan.

Dalam sebuah karyanya yang menggambarkan sosok banteng yang berdiri kokoh, dalam warna hitam kecoklatan. Bagian latar hanya terisi sapuan warna coklat keabuan, menandakan padang tandus yang mengabur, menyatu dengan langit. Kecuali rerumputan dan bebatuan diatas tanah dalam kontras/intensitas warna secukupnya, tidak ada elemen lain yang cukup menonjol selain sosok Banteng dengan mata dan kilatan cahaya pada kedua tanduknya yang terkesan magis.

Karya sederhana Wisesa menunjukkan keunggulannya dalam memaksimalkan tampilan subyek secara gamblang. Didukung penguasaan bentuk dan pengontrolan warna (kontras, balance), ia senantiasa produktif menciptakan kejutan-kejutan lain pada setiap sudut atau detail dikanvasnya.

Melihat issu lingkungan yang melekat pada karya-karya Wisesa, bukan tidak mungkin rambahan tematisnya suatu saat akan lebih menohok pada persoalan-persoalan yang lebih kritis, dengan pesan-pesan moral menyangkut lingkungan. Keterancaman habitat dan populasi hewan-hewan langka yang termasuk dilindungi karena ancaman kepunahan habitat, kerusakan lingkungan hidup (hutan, lingkungan padat perkotaan) yang bukan hanya mengancam dunia hewan tetapi juga manusia itu sendiri.

Karya-karya realis lainnya menghadirkan nuansa lain. Merekam dunia urban - budaya pop perkotaan dan banyak lagi ragam karya realism yang belum disebut disini, telah menyadarkan kita akan daya hidup lukisan berbasia realisme dimasa kini.

Oleh : Simon Simorangkir
(Kurator independen dan pengamat seni)